"Diatas Karpet Merah"

Setiap makhluk hidup, tentu saja mempunyai masalahnya itu sendiri. Ada pernak-pernik, mengenai apa itu karakteristik. Ia, memang selalu ingin untuk terus mengetik. Dan ia pun, selalu saja ingin untuk terus mencekik. Kepada pengap, yang telah tergumpal oleh asap. Menikmati, dari setiap hari. Ada yang terkikis, mengenai urusan batin. Ia, memang begitu prihatin. Tapi, ia, selalu senantiasanya untuk terus belajar, dan terus memperbaiki, dari apa yang telah ia lewati. Persepsi itu, selalu saja ingin terlintas, padahal, itu belum tentu jelas. Namun, hal semacam itu, seolah-olah selalu menjadi rasa was-was ataupun cemas. Terkadang, apa yang sedang ia mengarang, malah, suka menjadi karang. Memang ada petang, bila ia selalu ingin terus untuk memintanya pulang. Kepada talang, yang telah menjadi belulang. Ia tidak menyukai tulang, tapi ia, sangat begitu menyukai dari apa itu alang. Yang sedang melang-lang, kepada kasih sayang. Pedih ia nikmati. Senang ia syhukuri. Tak ada belas kasih, melainkan ia selalu ingin untuk mengucap kepada rasa berterimakasih. Bukan untuk diperselisih, melainkan ia ingin untuk mengalih. Karena ia selalu memintanya untuk memilih. Seorang teman, sedang mendengarkan sebuah musik. Ia selalu tidak mudah untuk terpejamkan, karena ia memang begitu ternikmatkan, oleh apa itu keasikan. Jari-jemarinya itu selalu merasa linu, karena ia selalu aktif dalam segi reaktif. Ia tidak pasip, tapi ia menginginkan untuk menjadi arsip. Ada sebuah titip, mengenai kolektip. Ia sedang mengintip, dikala ia sedang mengutip. 

Komentar

Postingan Populer