"Ibu"
Ibuku orang hebat, sampai-sampai ia berfoto dengan seorang pejabat. Ia memang begitu taat, dan ibuku, sangat begitu luar biasanya. Ibu, selalu mengajarkan aku, untuk terus belajar, mengenai apa itu agama. Karena ibuku, adalah seorang cendikiawan. Ibuku, multi-talenta, dan sangat begitu luar biasanya. Ia serba bisa, untuk menjadi apa. Aku sangat bangga, kepadanya. Dan sungguh begitu kagumnya. Ya, alloh, sehatkanlah, ibu, hamba. Ya, alloh, aku bangga, telah dilahirkan, dari rahimnya. Betapa nikmatnya, dalam segi rasa. Peluk dirinya, maka ada rasa, yang akan membebaskannya. Cium kakinya, maka, akan ada yang terlepas, oleh nafas, dari apa itu pintu surga. Ibu, adalah wanita hebat. Ia, sangat begitu tangguh, dan sangat begitu teguh. Suci dalam mengabdi. Ada bait kata, terhadap apa itu pesan. Agar, anak yang keras kepalanya itu, bisa untuk tersadarkan, oleh apa itu kenyataan, yang selalu ia arahkan, bahwa hidup itu memang menyakitkan. Dan, ia, pun, selalu mengajarkan aku, untuk taat dalam kehendak, dan selalu terus mengadu, kepada, Tuhan. Yang memang akan menjadi ketenangan, dalam urusan dunyawi, ataupun urusan yang akan datang nanti. Ibu, jagalah, dirimu, dengan sekuat apa yang engkau genggam. Anakmu, ini, sedang terus belajar, kepada dunia maupun kepada yang lainnya. Ibu, anakmu, sudah besar. Namun, Satria Purnama, tidak mau untuk besar. Kenapa, coba? Karena aku, ingin terus menjadi seorang anak kecil. Ketika aku sedang terjatuh, maka aku pun, tak akan banyak berfikir, untuk bangkit kembali. Dari kecil, aku selalu bertanya kepada diri ini sendiri. Bahwa aku adalah aku. Bahwa, aku adalah manusia, yang begitu tidak sempurna. Dan, Satria, pun, selalu dinasehati, oleh Kakek, agar, Satria terus untuk belajar. Katanya, sih, agar, Satria bisa untuk menjadi manusia besar. Entah itu dongeng ataupun apa, yang jelas. Kakek, selalu mengajarkan apa itu kebajikan, yang telah Satria temukan, disebuah ilmu, dari apa itu, Stoik. Yang pada akhirnya, Satria pun, tidak tahu, dari apa itu stoik? Yang jelas, Satria hanya sekedar, membaca saja. Dan itupun, hanya bermodal, gogling saja. Karena, untuk membeli buku, sudah terlalu jauh, untuk memenuhi kepada apa itu urusan dari perutku. Sekian dan terimakasih. Wasalam.
-Hormat Saya-
"Satria Purnama."
Komentar