"Licin Kehidupan"

Aku menangis dihadapanmu. Aku berdoa dirumahmu. Aku pun telah meminta, kepadmu. Pagi yang cerah, yang telah tertemani, oleh sorot dari sinar mentari. Aku ingin mengadu, setiap hari, kepadamu. Aku luapkan, rasa yang ada didalam perasaan, ataupun yang ada didalam pikiran. Semua terasa lega, bila semuanya telah keluar dengan keseluruhannya. Aku ingin untuk terus mengingatmu. Agar aku selalu taat, dalam ajaran-ajaran darimu. Aku telah mematahkan, mengenai apa itu kebatinan, yang ada didalam diriku ini. Sembayang, selalu membuat aku untuk menjadi tenang. Aku merasa senang, ketika aku telah mencurhatkannya itu semua. Air mata, yang selalu dihantarkan oleh rasa ketegangan, dari berbagai macam pikiran. Aku pun selalu merasa ada kebangkitan-kebangkitan, yang mengarah kepada suatu keinscahyaan, mengenai keterbukaan, yang selalu tergetuk, oleh apa itu rasa mengantuk ataupun suntuk. Seperti ada yang terbentuk, oleh apa itu wujud, dari kehadiranmu. Betapa segarnya, aku ini menghirup udara, yang selalu engkau berikan. Kepada diri ini. Asumsi-asumsi itu, selalu ingin untuk menjadi kekal, namun, aku tak mau, untuk menindak lanjuti, kepada apa itu ruang dari hawa nafsuku itu sendiri. Aku pejamkan, kedua bola mataku. Lalu, ada getaran mengenai energi, yang telah terbuang oleh suatu frekuensi, yang akan menjadi kebahagiaan, didalam diri ini. Berdamai, dengan diri sendiri. Sungguh begitu menjadi suatu tantangan, terhadap pola pikiran. Kehidupan, tak selamanya begitu. Namun, dari itulah, ada semacam sentuhan-sentuhan, mengenai apa itu getaran, yang selalu mengganggu kepada tubuhku ini tersebut.

Komentar

Postingan Populer