"Lagi gak mau mikir. Karena mikir gak mikir juga. Ujung-ujungnya, mikir juga. Cape, mending sare.

Aku butuh ketenangan. Aku ingi nyenyak untuk tertidur, karena aku lelah sehabis bekerja. Tolong pejamkan kedua bola mataku ini. Aku ingin berisitrahat, mengenai isi pikiran. Aku ingin tenang, dala jiwa, yang begitu hura. Diri sendiri, yang menyusahkannya. Tidak ada pikiran, malah yang apa-apa selalu dipikirkan. Ingin secara mendalam. Sampai ia rela untuk meninggalkan sesuatu hal yang berharga. Sadarlah, dan terus lah untuk belajar. Sudah, cukup dengan perjuangan-perjuanganmu. Istirahatlah, mengenai isi pikiran. Dan rehatlah dalam alam bawah sadar. Sudah segini saja dulu, wasalam. Alhamdulilah, aku telah kembali, mengenal kepada diri ini. Ketegangan, kecemasan, ataupun apa yang ada di dalam diri ini. Cangkang, selalu ingin untuk menungkang. Pemahaman, kesadaran, ketahuan, dan pembelajaran. Imajinasi, begitu liar, pikiran yang selalu tidak mau untuk berhenti berfikir, dan itulah sudah menjadi sifat, mengenai apa itu filsafat, yang selalu terdengar begitu sesat. Air pun telah reda, karena ia telah meminta. Aku berdoa, dan aku pun telah tersadarkan. Oleh apa itu pembelajaran. Yang selalu tidak mudah untuk terjawabkan. Begini rasanya. Dan begitu rasa kesakitannya. Aku telah bangkit, karena aku kemarin telah sakit. Asam lambung begitu memualkan. Telat makan. Karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Aneh bukan, bila aku selalu ingin untuk menganehkannya itu semua. Terimakasih untuk diri ini. Rasa sakit yang dihantarkan oleh suatu kelebihan dari segi pemikiran itu telah menyebabkan dari berbagai macam rasa nyeuri. Padahal itu semua, telah ada dengan secara sistematisnya. Ketegangan yang telah begitu mencemaskan. Ada hal-hal baru yang telah tertemukan, dengan secara pembelajaran. Mendengar, diberbagai macam canel dari apa itu kecanggihan diera teknologi dan komunikasi ini, telah mempraktiskan untuk terus belajar, dari apa itu pengetahuan, dan pemahan, yang akan membekali kepada dirinya. Kesulitan yang telah menerjang kepada dirinya, ada fase-fase yang amat begitu panjangnya. Terus taat dalam segi hal yang amat begitu manfaat. Ia telah sakit, tapi ia selalu ingin untuk bangkit. Ada keberanian yang telah muncul, dan ada pemahaman setelah ia terus melakoni, dari apa yang sedang ia pelajari. Keunikan disetipa individu. Telah membuat aku untuk terus saling bertemu. Kepada buku, dan kepada apa itu manusia. Engkau tak boleh untuk berhenti. Karena engkau telah melewati, dari apa itu peperangan. Yang selalu beresemayam didalam tubuhmu. Otak begitu luar biasanya. Semakin engkau mendalami. Mengenai sebuah arti, maka engkau selalu ingin untuk terus mencari. Seberapa hebat dirimu terus menguji, kepada sesuatu hal yang pasti. Pada sejatinya, itu hanyalah sekedar mempelajari dari apa yang sedang engkau temui. Hal yang paling penting adalah, terus menyadari apa yang sedang dipelajari. Berhenti, ketika engkau telah merasa puas. Lalu, syhukuri lah, atas pencapaian darimu itu sendiri. Setelah itu, baru jalan lagi, mengenai apa yang sedang engkau ingin pikirkan, terhadap suatu tujuan. Sadarkanlah kembali, mengenai pola kewarasan. Didalam dunia dari kenyataan. Engkau tidak menggilai, melainkan engkau sedang untuk saling mengenali. Dari apa yang telah engkau temui. Pikiran kacau, hatiku sangat balau. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Dan hal yang paling penting adalah sadarlah, mengenai kodrat, yang telah mempererat, kepada dirimu. Mengadulah, kepada seseorang yang bisa untuk mrngerti. Dan berdoalah, kepada Sang Maha Kuasa. Bila engkau menginginkan untuk lebih terbuka. Indah bukan, bila ia selalu saja ingin untuk terus mengadu, kepada suatu perbaikan, yang ada didalam dirinya itu. Aku bersyhukur. Dan menikmati, apa yang telah terlakoni. Tak semua ingin terus terlihat begitu bernampak, ikhlas dan terus belajar, bahwa dirimu berhak untuk dicintai. Mempelajari, apa yang telah terlewati. Jadikan pelajaran, bagi diri ini sendiri. Berdoa dan beristirahatlah, mengenai apa yang sedang kamu hadapi. Ujian dan cobaan, itu semua selalu ingin untuk berdampingan. Dan tidak akan pernah untuk bisa lepas. Jangan terlalu digenggam oleh diri sendiri. Carilah lingkungan, yang selalu membuat dirimu percaya agar sebuah harapan, kepada dunia, yang selalu ada dari apa itu tipu-tipu daya. Terima apa yang kamu miliki. Temani apa yang sedang kamu rasakan. Dan pikiran, hanya akan sekedar memutar balikan saja. Pergilah, dan sadarilah, apa yang engkau ingin raih. Terus semangat, lawan ambisimu. Lalu, basuhilah, dengan mengucap basmalah, yang pada akhirnya akan mengucap kepada alhamdulilah. Lepas kan, dengan sekencang-kencangnya. Banyak, hal-hal, yang telah terpental dengan begitu saja. Terimalah, dengan penuh keikhlasan, syhukuri apa yang semestinya untuk dinikmati. Sudah hentikan, apa yang selalu engkau khawatirkan. Bukalah, kembali hati nuranimu. Bila engkau ingin untuk terus bertemu denganku. Ajariaku, untuk terus taat dalam mengingatmu. Entah dalam genggaman, ataupun dekapan. Engkau ingin dipeluk, tapi engkau memang telah tertaklukan, oleh rasa keinginan, dari apa itu berbagai macam dari pengetahuan. Sabarlah, dan itu sudah semestinya. Terimalah, dengan setabah-tabahnya. Setelah itu, kembali tertidur, agar engkau selalu tidak ingin untuk terus ngelindur. Ada undur-undur, yang sedang saling mengadu. Ada pasir pula, yang sedang menyisir, kepada petir, yang sedang ditunggu-tunggu, oleh orang lain. Mungkin itu hanyalah sekedar, berharap, tapi setidaknya, dirimu telah berusaha. Dan selebihnya, itu hanyalah sebuah hasil saja. Jika sudah ada hasilnya, maka engkau harus patut untuk lebih menyshukuri. Kepada apa yang telah memberi. Sudah, jangan dirisaukan kembali. Alangkah baiknya, engkau terus berdiri. Meskipun engkau hanya seorang diri. Lawan, dengan kesadaran. Raih kesemangatan, dengan energi yang telah tertumpahkan. Ambilah, jeda, mengenai ruang logika. Sudah, segitu saja. Sekian dan terimakasih.Seorang pria mana yang tak mau untuk mengenalimu. Engkau tak boleh untuk berhenti mencintai. Bila engkau, selalu menginginkan untuk saling melengkapi. Kenali lagi, apa yang kamu sedang ingin untuk kenali. Berhentilah, ketika ia telah meminta untuk pergi. Engkau harus melangkah kembali. Setidaknya, engkau tak boleh untuk berhenti. Ia telah terkunci, oleh kata hati. Meskipun begitu, engkau harus tetap untuk saling bertemu. Kepada candu, bagi pos syahdu. Ungkapkanlah, apa yang sedang engkau inginkan. Memintalah, apa yang sedang engkau usahakan. Mencoba dan terus untuk mencoba. Hadapi, semua itu. Rasa takut, cemas, khawatir, dll. Semua itu ada, karena dirimu itu, hanya sebagai seorang manusia saja. Membaca lalu menulis, pada akhirnya, dirimu telah menemui. Apa yang selama ini kamu cari. Tak perlu, kepopuleran ataupun kesuksesan. Cukup dengan melingkup. Bagi ruang lingkup. Setidaknya, dirimu sudah berusaha, bukan. Dan itu sudah menjadi nilai tambahan, bagi sebuah penghargaan, yang ada di dalam dirimu. Senang rasanya, bila engkau selalu ingin untuk terus menulis, lalu kembali lagi untuk membaca. Kesalahan, memang selalu ada. Karena dirimu pun, memang pantas untuk salah, karena, engkau hanya sekedar manusia biasa saja. Tersudut oleh titik kumpul, bagi sebuah sampul. Yang selalu ingin untuk terus terkumpul. Lukiskanlah, apa yang sedang engkau ingin tuliskan. Buatlah, kesenangan, bagi pencapaian, yang telah kamu bambrangkan. Bila engkau selalu patuh, dalam segi utuh. Tidurlah, kamu sudah mampu, untuk bertemu, kepada apa itu sebuah ilmu. Yang telah engkau ajari, kepada dirimu. Jauhkanlah, apa itu pola terhadap kedua bola mata. Engkau akan terlelap dengan berdamai kepada dirimu itu sendiri. Jauhkan sesuatu yang belum pasti, karena itu sifatnya tidak akan pernah untuk abadi. Karena, ia hanya sekedar suatu penyakit saja. Bila, engkau selalu terus untuk menurutinya saja. Olah, lah, dari apa itu indah. Terus belajar, kepada apa itu seorang pengajar. Berbahagialah, kepada takdirmu. Nikmati, kepada keluh kesahmu, agar, engkau selalu taat, dalam belajar, lalu membuka kepada yang lainnya. Tak boleh berkata kasar, karena engkau sudah tidak lagi untuk pergi ke suatu busar. Hentikan, lalu jinakan. Sudah. Mari untuk rehat sejenak. Bila engkau selalu ingin untuk enak.

Komentar

Postingan Populer